

Hari-hari dalam minggu ini aku begitu sangat ingin belajar blog di blogger ini. Belajar sendiri, tanpa ada orang yang bisa di ajak bertukar fikiran atau tempat bertanya. Akhirnya, aku selalu bertanya kepada mbahku: mbah Google. Untungnya mbahku yang satu ini dengan telaten meladeni setiap keinginanku. Dengan telaten mbah yang sudah berumur ratusan tahun itu, menunjukkan aku tempat-tempat dan Saudara-saudara lain tempat bertanya.
Alhamdulillah. Ternyata masih ada 'orang' yang mau memberitahu, walau itu tidak gratis. Sebab, mana ada sih di dunia ini yang gratis dan betul-betul gratis ???
Ah .....
Hari ini blog di blogger yang aku buat sangat menyibukkan aku. Maunya aku memoles tampilannya biar ayu. Paling enggak seperti Revalina Es... atau seperti Luna Maya.
Eh, jadinya morat-marit. Ada niat untuk membuat artikel dengan model 'Baca selengkapnya ...' atau memisah tulisan dalam artikel menjadi model abstrak di tampilan utama dan teks penuh atau lengkap setelah menekan bagian 'Baca selengkapnya ...' itu, eh ladalah tampilan jadi morat-marit lagi.
Waduh... waduh... sirahku sempat cenut-cenut.
Tapi masih ada semangatku untuk mengulanginya lagi. Aku mencoba lagi melihat-lihat tulisannya Saudara Kendhin tentang read more ini. Dan aku coba lagi. Melihat-lihat satu demi satu tulisan pada script yang benar-benar memaksa m
ata dan otakku konsentrasi. Dan aku coba lagi, dan lagi deh ....
Alhamdulillah.....
Puji syukur kehadhirat Ilahi Robbi, akhirnya aku diberi kesempatan untuk melihat keberhasilanku melalui tulisan ini. Teks dalam artikel yang aku ingin pecah menjadi dua bagian, akhirnya bisa jadi ....
9.12.2008
Belajar di Blogger (Sungguh) Melelahkan
Diposkan oleh
Ghufron
di
20:42
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Tentang Blog
5.06.2008
Jalinlah Komunikasi itu, Saudaraku
Perjalananku siang ini sampai disini, disebuah lembaga yang menggodog manusia yang secara umum banyak disebut anak baru gede. Aku melihat sekeliling, orang-orang yang oleh Ilahi saat ini didekatkan kepadaku dan biasa disebut rekan kerja atau kalau mau lebih jauh dicermati, orang-orang disekitarku saat ini adalah saudara-saudara seiman.
Tapi, diakhir-akhir ini, pada saat perjalanan untuk periode baru tahun ini dimulai, kurasakan 'hawa' yang sedikit panas. Aku mengerutkan keningku yang sudah mulai nampak garis usia, Ada apa ?
Masih seperti kemarin-kemarin, dengan berusaha tetap tersenyum aku ngobrol-ngobrol dengan rekan-rekan kerjaku.'Hai gimana kabarnya ?
basa-basiku meluncur begitu saja.
dan terus ngobrol kesana kemari, sampai kemudian aku dan rekan-rekan yang lagi asyik ngobrol terhenti sejenak satu sosok (yang menurut aku orang baru) menyapa kami dengan tersenyum, masih terhanyut aku secara tak sadar (otomatis?) membalas dengan senyuman kecil.
Aku tolah-toleh.....rekan-rekan disampingku tampak tak terlalu terkejut.
Sudah tahu ya? tanyaku.......
Wah, ketinggalan kereta deh ....goda rekan disampingku.
Eh, ternyata aku telat informasi....dan ternyata, disaat kondisi ekonomi (secara umum) terseok-seok disini, dilembaga ini pihak pimpinan menambah tak kurang dari semnilan tenaga baru.
lagi-lagi aku ada kejut, setahu aku Formasi pimpinan dan staf-stafnya terhitung baru. Eh sekarang menambah sekian banyak (menurut hitungan dilembaga ini) tenaga baru.
Tentu saja penambahan itu akan berdampak secara ekonomi atau perekonomian dilembaga ini, belum lagi Job yang mesti dibagi-bagi dan ujung-ujungnya harapan untuk adanya perbaikan dan ekonomi (lebih khusus pendapatan) akan semakin menipis.
Hari-hari berjalan tampak sedikit suasana yang kaku rekan-rekan yang merasa tak diberi informasi, tak diajak ngomong terlihat raut kecewa mereka dengan terpaksa' harus rela membagi Job (yang tentunya berbagi pendapatan) dengan orang baru. Padahal mereka merasa masih mampu memegang Job dilembaga ini diistilahkan dengan (amanah) yang selama ini mereka jadikan salah satu, tongkat untuk menopang ekonomi keluarga mereka.......
Pikiranku melayang-layang, melambung mencari benang-benang jawaban yang terurai. kurenggut satu persatu, kurangkai lagi berharap kan menjadi tali pengikat satu jawaban. sampai aku memandang satu benang, Saudaraku ajaklah aku ngomong, Apa kekuranganku ? Tegurlah aku, kalau aku lalai dalam amanahku janganlah Saudaraku menyingkirkan aku dengan senyuman hambar itu...
(Mudah-mudahan....harapan yang mudah-mudahan, tidak terabaikan)...
Diposkan oleh
Ghufron
di
15:50
1 komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Umum
4.23.2008
Wanitaku Berpijak pada Dogma
Bukankah Ilahi lewat Muhammad sudah memberi suri ?

Ya, tauladan dari Muhammad sudah sekiranya cukup untuk dipahami. Muhammad sudah menyabdakan, "Sekiranya seorang wanita sedang naik sedan sekelas BMW kelas satu yang sangat-sangat mewah, kalau sekiranya suaminya menghendaki wanita itu turun tuk diajak mandi, maka wanita itu mutlak harus mau .... "
Atau, tidakkah kisah ketaatan istri seorang sahabat Nabi si 'fulan' yang ditinggal beperang, mampu menggugah nurani setiap wanita ?
Cobalah perempuan-perempuan membaca kisah istri di 'fulan' itu.
Si 'fulan' seorang sahabat Nabi suatu ketika hendak pergi berperang. Sebelum berangkat ia berpesan kepada istrinya, "Sayangku ...., selama aku pergi berperang, janganlah engkau sekali-sekali engkau keluar rumah, kecuali untuk keperluan belanja untuk apa yang kamu masak makanan ... "
Belum lama si fulan berangkat berperang, datang seorang utusan ibu dari istri si fulan. Utusan itu memberitahukan kalau ibunya sakit dan minta agar istri si fulan itu datang menjenguk. Istri sahabat itu bergegas berkemas mempersiapkan bekal akan berangkat menjenguk ibunya yang dikabarkan sakit. Saat hendak berangkat, ia teringat pada pesan suaminya. Sejenak ia tertegun. Ia bimbang. Di satu sisi ibunya yang sakit membutuhkan kehadirannya, tapi di sisi lain ia berkewajiban mentaati suaminya yang berpesan untuk tidak keluar rumah selama suaminya tidak ada di rumah. Antara kehendak hatinya untuk menjenguk ibunya dan keimanannya untuk taat kepada suaminya berperang.
Sampai akhirnya wanita istri si fulan mantap dan berkata kepada utusan tadi, "Maaf, maafkan saya. Suami saya sedang pergi berperang dan dia berpesan agar saya tidak keluar rumah."
Sang utusan tertegun, setengah tidak percaya ia berkata dengan suara pelan, "Tapi ibu Anda sakit dan membutuhkan kehadiran Anda ?"
"Maaf, sekali lagi maafkan saya."
Sang utusan pulang.
Selang beberapa hari setelah kedatangannya yang pertama, utusan ibunya istri si fulang datang lagi. Untuk kedua kalinya utusan itu menyampaikan pesan ibunya agar wanita beriman itu datang menjenguk dan merawat ibunya.
Dengan mata digelayuti mendung, wanita beriman itu tetap menyampaikan jawabannya, "Maaf, maafkan saya. Saya tidak bisa. Suami saya belum pulang, saya tidak diperkenankan keluar rumah selama suami saya tidak di rumah ...."
Dan untuk kedua kalinya pula, sang utusan pulang dengan tangan hampa.
Hingga sang utusan datang untuk ketiga kalinya menyampaikan kabar akan kematian ibu dari istri si fulan, wanita itu tetap tidak melangkahkan kakinya untuk keluar rumah. Meski itu melangkahkan kaki untuk datang pada penghormatan terakhir kalinya kepada ibunya yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya, Ibu yang sudah mengandung ia selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kondisi yang payah dan lelah.
Tidak bisa menerima sikap istri si fulan, sang utusan itu mendatangi Rasulullah SAW. Utusan itu mengadukan sikap istri si fulan pada Rasulullah SAW, "Ya Rasul. Bagaimana istri si fulan itu, ibunya sakit sampai menemui ajalnya ia tidak mau datang untuk menjenguk."
"Memang kenapa ?" sambut Rasulullah

"Istri si fulan mengatakan kalau ia dipesan oleh suaminya untuk tidak keluar rumah selama suaminya pergi berperang."
"Allahu Akbar. Berbahagia dan masuk surgalah ibunya istri si fulan karena mempunyai anak solihah yang taat kepada suaminya ......" jawab Rasulullah SAW.
Diposkan oleh
Ghufron
di
16:09
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel
Mengenai Saya
Kategori
- Artikel (3)
- Artikel Umum (1)
- Seputar Hand Phone (1)
- Tentang Blog (1)


